Blog
·4 menit baca

Kenapa Undanganmu Masih Disusun Manusia, Bukan Mesin

Apa yang sebenarnya terjadi setelah kamu kirim detail acara: siapa yang memeriksa nama, gelar, dan susunan acaramu, dan kenapa bagian itu sengaja tidak kami otomatiskan.

Ada satu pertanyaan yang hampir selalu kami tanyakan balik ke pasangan, dan hampir selalu bikin obrolan berhenti sebentar:

"Nama ayah dan ibu ditulis lengkap dengan gelarnya, atau tanpa gelar?"

Kelihatannya sepele. Tapi di undangan yang dibaca ratusan orang, termasuk om, tante, dan sesepuh dari dua keluarga, cara nama orang tua ditulis itu bukan urusan desain. Itu urusan sopan santun. Dan tidak ada sistem otomatis yang tahu jawabannya untuk keluargamu.

Makanya sampai sekarang, bagian ini tetap dikerjakan orang.

Apa yang sebenarnya terjadi setelah kamu order

Alurnya lebih sederhana dari yang kebanyakan orang bayangkan, tapi tidak sepenuhnya otomatis, dan memang sengaja begitu.

Kamu pilih template, kirim detail acara lewat WhatsApp, lalu ada orang yang membaca kiriman itu. Bukan formulir yang langsung masuk database. Dibaca.

Di titik itulah pertanyaan-pertanyaan muncul: nama siapa yang ditulis duluan, akad dan resepsi di tempat yang sama atau beda, ada sesi khusus untuk keluarga dari luar kota, mau pakai sapaan "Bapak/Ibu" atau nama saja. Undanganmu jadi setelah pertanyaan-pertanyaan itu terjawab, biasanya dalam 2 sampai 3 hari kerja.

Hal-hal kecil yang cuma ketahuan kalau ada yang bertanya

Beberapa yang paling sering perlu diluruskan:

Urutan nama. Di sebagian keluarga, nama mempelai perempuan ditulis lebih dulu. Di sebagian lain justru sebaliknya, dan menaruhnya terbalik bisa jadi bahan omongan panjang.

Gelar adat. Penulisan gelar Batak, Minang, Bugis, atau gelar keraton punya aturan yang ketat. Salah satu huruf saja bisa terasa tidak hormat buat keluarga besar. Ini selalu kami konfirmasi ulang, bukan kami tebak.

Dua acara, dua kota. Akad di rumah keluarga, resepsi di kota lain, atau resepsi kedua di kampung halaman. Satu undangan harus memuat dua jadwal tanpa bikin tamu bingung harus datang ke yang mana.

Kalimat pembuka. Yang cocok untuk keluarga besar berbeda dengan yang cocok untuk teman kantor. Sering pasangan baru sadar setelah membaca draft-nya.

Doa dan ayat. Kalau kamu mau mencantumkan ayat atau doa, kami minta kamu yang mengirimkan teksnya persis: dari mushaf, Alkitab, atau dari penghulu dan pendeta yang menikahkan kamu. Kami tidak mengarang bagian ini, dan tidak mengambilnya dari sumber sembarangan.

Yang tidak akan kami serahkan ke mesin

Ada beberapa hal yang secara sadar kami putuskan untuk tidak diotomatiskan, sekarang maupun nanti:

Fotomu. Foto prewedding di undanganmu adalah fotomu, apa adanya. Kami tidak menghasilkan wajah, tidak mengganti latar jadi tempat yang tidak pernah kamu datangi, dan tidak "memperbaiki" penampilan siapa pun tanpa diminta.

Kata-katamu. Cerita bagaimana kalian bertemu, kalimat untuk orang tua, sapaan untuk tamu. Kalau kamu menulisnya sendiri, itu yang kami pakai. Kalau kamu minta dibantu, kami bantu dengan bertanya, bukan dengan mengarang cerita yang bukan ceritamu.

Detail adat dan agama. Ini bukan area untuk tebakan. Kalau kami ragu, kami tanya. Kalau kamu ragu, kami tunggu sampai kamu sempat tanya orang tua.

Tiga hal itu yang membuat undangan terasa seperti milik seseorang, bukan seperti hasil isi formulir. Menyerahkannya ke sistem otomatis mungkin lebih cepat beberapa jam, dan hasilnya akan terasa persis seperti itu.

Lalu teknologinya di mana?

Di tempat yang benar: di bawah, bukan di depan.

Undangan digital yang bagus itu sebenarnya perangkat lunak yang cukup rumit. RSVP harus masuk seketika ke dashboard-mu supaya kamu bisa menghitung kursi dan katering. Satu undangan yang sama harus bisa tampil dalam bahasa Indonesia, Inggris, dan Mandarin tanpa berubah tata letaknya. Animasinya harus tetap halus di HP keluaran lima tahun lalu, karena sebagian tamumu memang memakai HP itu. Foto harus terbuka cepat di jaringan yang tidak selalu bagus.

Bagian itu kami bangun bersama NFT Atoms, studio engineering yang mengerjakan sistem seperti ini. Mereka yang menangani mesin render, dashboard RSVP waktu nyata, dan pengujian otomatis yang memastikan setiap template masih tampil benar di berbagai ukuran layar sebelum sampai ke tanganmu.

Pembagiannya kami jaga tetap jelas: teknologi mengurus mesinnya, orang mengurus undanganmu. NFT Atoms membangun platformnya; yang membaca detail acaramu dan menanyakan soal gelar ayahmu tetap manusia. Kalau kamu penasaran dengan sisi teknis platform ini, mereka menulis soal pekerjaan semacam itu di blog mereka.

Kenapa ini penting buat kamu

Undangan adalah hal pertama yang dilihat tamumu tentang pernikahanmu. Sebelum dekorasi, sebelum katering, sebelum foto. Kalau ada nama yang salah tulis atau gelar yang keliru, itu yang diingat orang, dan itu tidak bisa ditarik lagi setelah tersebar ke ratusan kontak.

Karena itu kami lebih memilih bertanya dua kali daripada mengirim cepat tapi salah.

Mulai dari sini

Lihat dulu hasilnya. Semua template bisa dibuka penuh sebelum kamu bayar apa pun, termasuk tema yang mengikuti adatmu.

Kalau ada detail keluarga yang kamu sendiri belum yakin cara menulisnya, itu justru pertanyaan yang paling sering kami bantu. Chat tim kami di WhatsApp →

Mulai buat undanganmu → | Lihat harga →

Tim WeddingBestie

Tim editorial WeddingBestie — spesialis undangan pernikahan digital dan tren pernikahan Indonesia.

Terakhir diperbarui: